Banyak orang sesungguhnya sering menangkap kesan mendalam dari seorang guru, tokoh, selebriti sahabat bahkan orang biasa yang sempat terjalin interaksi, apalagi interaksi itu berjalan secara kontinyu. Tapi tentu tidak banyak orang mau mnceritakan kesannya itu kepada orang lain-alih-alih menulisnya untuk publik, lebih banyak orang memilih memendamnya sebagai kesan pribadi bahkan menjadi rahasia pribadinya sepanjang masa. Saya tergolong keduanya. Kadang ingin menyimpan rapat-rapat dan sekali waktu bersemangat untuk menceritakan bahkan menulisnya untuk orang banyak. Tujuannya satu karena dengan menceritakan apalagi menulisnya sangat bermanfaat, bukan saja untukku tapi juga bagi orang yang membacanya. Kali ini kesanku itu terhadap seorang guru, dosen dua mata kuliah (menurutku sangat penting) ekonomi teknik dan management information system pada Magister Teknik Industri Universitas Indonesia.
Sebagai mahasiswa pasca sarjana dengan latar belakang wiraswasta, interpreneur githu lah..... tidak mudah bagi saya mengikuti setiap mata kuliah yang dibawakan Pak Dosen (untuk selanjutnya saya sebut Pak Dachyar). Bagaimana mungkin ya, kadang tugas itu begitu banyak menyertai sulitnya cari duit tiap harinya. Saya tidak kebayang tugas sebanyak itu selesai bila tanpa ‘taktik’.
Menurut saya diantara dosen-dosen yang lain Pak Dachyar memiliki tipe yang khusus. Khusus mencela dan membuat saya kelimpungan. Walaupun sebenarnya nggak ngaruh secara mental. Kesan ketus terhadap ketimpangan dunia idealita dalam pikirannya dan kenyataan yang ada di depannya menambah kesan dirinya tak mudah dipatahkan untuk persoalan kemajuan, terutama yang menyangkut ‘ego’ orang TI. Support itu luar biasa memompa adrenalin. Saya sangat terkesan dengan kata-katanya: biarkan saja orang asyik dengan teori dan penemuan barunya tentang dunia telekomonikasi, biar kita yang menangkap peluang itu untuk berbisnis......Ya berbisnis.... Setelah saya pikir itulah yang selama ini terjadi di dunia pasar kita, produsen yang capek dengan segala inovasinya pebisnis yang mengeruk keuntungan fantastis..... luar biasa...
Ego sebagai orang TI sering Pak Dachyar dengungkan melalui berbagai kesempatan kuliah Management Information System karena memang banyak berkaitan dengan kendali sebuah organisasi perusahaan dari sisi knowledge management. Pak Dachyar juga sangat antusias dengan penggunaan Electronic Data Interchange untuk suatu sistem transaksi dan input data yang serumit apapun guna mempermudah proses tukar menukar data dalam sistem bisnis, pengiriman barang maupun logistik, hubungan antar negara untuk keamanan, pertahanan bahkan sekedar data pariwisata.....Di bidang perencanaan bisnis, flow chart yang sering dibilang oleh orang non TI gampang itu, bagi pak Dachyar merupakan jalan menuju kesuksesan sebuah perencanaan bisnis yang tidak mudah membuatnya. Yang paling terakhir sebelum tulisan ini dibuat adalah tentang Costamer Relationship Management, suatu sistem yang mengelola hubungan antara perusahaan dan customer. Pak Dachyar mencontohkan program oracle yang mampu mendiskripsikan dengan tepat kondisi pengguna kredit adira hanya dari kebiasaan kapan membayar kreditnya. Bahkan dengan program itu mampu dilakukan penafsiran sesungguhnya berapa penghasilan pengguna kredit per bulan maupun behaviornya..... Pak Dachyar membuat dunia TI seolah menjadi raja penentu dalam bisnis modern. Saya salut dengan penafsiran itu....
Rupanya ada PR panjang dari serangkaian kuliah Pak Dachyar, sebuah tuntutan profesionalisme dengan iming-iming salary dan fasilitas mobil seperti inova.... walaupun saya agak kecewa dengan iming-iming itu. Semangat Pak Dachyar sebagai guru multi talenta yang tidak mudah ditebak sangat melekat karena kuliahnya juga diselingi dengan kritik-kritik pedas terhadap keadaan yang ada. Saya dan kawan-kawan kadang sampai tidak lagi punya peluru untuk melesatkan sasaran pada sang guru. Tapi saya yakin maksudnya baik.....
Mengenai kekecewaan saya tentang iming-iming yang menurut saya naggung itu, saya punya cerita:
Suatu ketika saya bertemu dengan kenalan lama sebut saja Mas Gi (bukan nama sebenarnya). Mas Gi baru saja pulang dari Kanada untuk menghadiri World Pertoleum Forum di Calgary, sebelumnya menghadiri wisuda putra pertamanya di Princeton University, America Serikat. Dia menceritakan sambutan rektor (president of university) saat mewisuda para mahasiswa program pasca sarjana dari berbagai jurusan termasuk putranya yang lulus dari bidang bisnis internasional. Sang rektor yang profesor dibidang ekonomi itu memberikan selamat kepada para wisudawan sesuai dengan urutan nilanya. Sambutannya:
“ Kepada mahasiswa yang memperoleh nilai A saya mengucapkan selamat dan penghargaan yang sangat tinggi. Dedikasi anda sebagai seorang akademis merupakan fajar baru bagi dunia pendidikan tinggi. Princeton University mengundang dengan hormat anda semua yang berprestasi untuk menjadi dosen-dosen yang berbakat dan menjadi guru besar di bidangnya masing-masing....”
“Kepada mahasiswa yang mampu mencapai nilai B, dengan permohonan maaf universitas ini tidak akan pernah mengundang anda. Dunia usaha di luar sana di seluruh dunia menanti anda untuk berkarier sebagai para profesioanal handal di bidangnya masing-masing. Selamat kepada anda yang memperoleh nilai B.....”
“Kepada mahasiswa yang lulus dengan nilai C, itulah usaha maksimal anda. Sulit bagi anda untuk berpeluang di dunia usaha sebagai profesional apalagi bermimpi menjadi guru besar.... Andalah... sang pionir, para pejuang yang harus memiliki survive of the fittes, petarung yang handal yang dapat membuka lapangan kerja. Andalah calon-calon pengusaha itu....Selamat....”
Selesai cerita itu kami sama-sama tertawa riang, kemudian saya bertanya: Mas Gi putranya lulus dengan nilai apa? Dia tidak menjawabnya bahkan balik bertanya ke saya: Siapa yang bakal nerusin usaha saya ya......?
Agaknya cerita itu perlu kita renungkan diantara tantangan-tantangan Pak Dachyar. Apa benar, havard bussiness school sebuah sekolah bergengsi di bidang bisnis di dunia yang sering kita dengar tersohornya itu tidak pernah melahirkan sorang pengusaha? Dan saya yakin Pak Dachyar juga akan kecewa jika kita semua nerimo dengan iming-iming salary 15 jutaan per bulan dan fasilitas mobil inova saja ....
Mohon maaf Pak Dachyar bila ada kata-kata yang tidak berkenan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar