Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 diyakini akan
menembus target yaitu sebesar 6,5 prosen. Hal tersebut sesuai penjelasan wakil
menteri keuangan baru-baru ini. Perhitungan pertumbuhan ekonomi di dasarkan
atas pendekatan pengeluaran yaitu 2,7 prosen dari konsumsi rumah tangga dan 3,3
prosen dari net ekspor. Sisanya 0,5 prosen dari konsumsi pemerintah,
pembentukan modal tetap domestic bruto, dan perubahan inventori.
Dengan pertumbuhan sebesar 6,5 prosen
tersebut, ekonomi makro Indonesia masih cukup aman terhadap instabilitas ekonomi
kawasan. Akan tetapi secara mikro ekonomi, pertumbuhan tersebut belum
berkualitas. Konsumsi rumah tangga yang menopang 2,7 prosen, lebih banyak
didorong oleh konsumsi masyarakat kelas menengah ke atas yang bila dibandingkan konsumsi rumah tangga
masyarakat bawah terlampau timpang. Ini menunjukkan bahwa mesin ekonomi
pemerintah yang memiliki kapasitas cukup besar belum mampu menggerakan sector riil
yang mampu memberikan efek positif bagi terserapnya tenaga kerja secara
besar-besaran. Akibatnya pertumbuhan yang ada baru dapat dinikmati sejumlah
kecil masyarakat yang termasuk dalam perut piramida ke atas. Di bawah perut dan
di pijakan piramida masih tetap menganggur dan hidup miskin.
Kapasitas mesin ekonomi pemerintah di
dukung oleh 17 kementrian teknis di bawah koordinasi Menko Bidang Perekonomian,
Dewan Pertimbangan Presiden, Komite Ekonomi Nasional dan UKP4. Masih ditambah
beberapa dewan yang terkait dengan penopang kegiatan ekonomi. Anomali antara
kapasitas mesin ekonomi dan out put yang dihasilkan belum mencerminkan
terjadinya sinergi yang baik diantara elemen-elemen penting kegiatan ekonomi
Indonesia. Bersyukur sector usaha kecil-menengah dan swasta lainnya mampu
memberikan stimulus.
Penyakit klasik yang masih dilakukan
pemerintah adalah ketidak mampuannya dalam melakukan konsolidasi di antara
kementerian terkait yang mampu memberikan rangsangan terhadap pertumbuhan lebih
cepat di awal tahun karena 3-4 bulan di awal tahun tersebut pemerintah masih
disibukkan dengan pelbagai proses administrasi proyek yang kadang jauh
ketinggalan dengan pergerakan sector swasta yang cepat untuk mengejar
pertumbuhan yang diinginkan. Lebih parah lagi bila koordinasi tersebut harus
ruwet di antara kementrian teknis dengan kementrian keuangan, Bappenas dan DPR yang
dulu populer dengan istilah dibintang alias anggaran program belum bisa dicairkan.
Langgam lama yang tak kunjung selesai
akan mengakibatkan idle atau
hibernasi dari ketersediaan kapasitas mesin ekonomi pemerintah yang sebenarnya
besar. Kondisi makro ekonomi memang cukup baik, namun harus diikuti dengan
kondisi mikro yang dirancang dengan penyerapan APBN yang merata dan lebih cepat
untuk menciptakan peluang-peluang baru di akhir tahun. Bukan menyelesaikan
pekerjaan yang sedianya sudah selesai sebelum akhir tahun menjelang. Meski kita
tidak boleh pesimis namun kementrian teknis yang dapat menopang pertumbuhan
ekonomi yang dapat dirasakan rakyat kecil justru dipegang oleh orang parpol
dengan latar belakang parpol yang berbeda. Bila kepentingan merah putih tak
didahulukan akibatnya akan sangat parah…..
Kita masih menaruh harapan mesin
ekonomi pemerintah yang berkapasitas besar mampu bergerak lebih cepat dengan
serangkaian koordinasi yang baik, baru pemerintah boleh berharap investasi akan
masuk dan sector swasta bergairah…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar