Sudah
sering kita mendengar berita di tv, membaca kabar di koran atau sekedar
desas-desus tentang mafia yang berkeliaran di gedung DPR-RI wabil khusus di
Badan Anggaran DPR. Kenapa di Badan anggaran DPR, karena di badan inilah wakil
rakyat kita dipilih oleh fraksinya dengan jumlah sedikit untuk mewakili 560
anggota DPR menggunakan haknya, sebagai anggota DPR, hak budget untuk
menganggarkan program-program makro dalam APBN yang kemudian secara teknis
dibahas di komisi-komisi untuk menjadi RKA KL yang dibahas bersama pemerintah
kemudian disetujui bersama-sama DPR RI secara kelembagaan dan pemerintah
menjadi Undang-undang APBN.
Bermula
berbagai kasus yang menyeret anggota DPR RI ke kursi pesakitan KPK karena
disangka menerima suap ataupun gratifikasi, entah dari mana asalnya kemudian
ramai-ramai publik koor, ada mafia di DPR. Sejauh ini tak pernah ada
penangkapan terhadap mafia tersebut. Karena yang ditangkap adalah anggota DPR
RI, stafnya, pegawai pemerintah atau pengusaha yang memberikan uang pelicin
kepada anggota DPR untuk memuluskan program tertentu. Dalam istilah para
‘mafia’ biaya pengawalan.
Mafia
nya sendiri tak pernah ada. Karena satu pun tak ada yang pernah ditangkap
tangan oleh KPK sebagai mafia. Mereka yang tertangkap selalu jelas
identitasnya, pekerjaannya bahkan bestatus terhormat. Lantas dimana mafia nya?
Apakah kata mafia hanya untuk menunjukkan betapa proses penggunaan hak budget
di gedung DPR RI tak ubahnya seperti dalam rapat para mafia?
Jika
kita berandai mafia itu ada, tanpa bukti fisik dan jaringan dari mafia itu kita
sepakat mengatakan ada mafia berarti suatu saat akan terbukti ada orang-orang
di luar anggota DPR RI, stafnya, pengusaha dan pejabat pemerintah terindikasi
sebagai mafia, mengerikan sekali...
Kenapa
kemudian mafia berkumpul di gedung DPR? Tentu karena gerombolan mafia memiliki
anggaran untuk aktifitas mereka di luar parlemen atau dalam rangka mensuport
kegiatan orang per orang atau partai politik atau pejabat pemerintah di luar
parlemen. Anggaran mafia yang besar itu, dan sebagaimana layaknya mafia: cari
uang gampang dengan cara yang cepat dan enak, halal atau haram, melanggar hukum
atau tidak bagi mafia tak penting yang penting bisa didapat. Bermula dari hal
inilah pat gulipat dimulai. Perkiraan penulis anggaran awal mafia ini diperoleh
dari sumber tertentu yang punya kepentingan dengan kue APBN. Merebaklah
kemudian istilah mafia anggran karena mafia tersebut bersliweran untuk
memperjuangkan postur anggaran yang dibidik sesuai dengan kebutuhan anggaran
mafia yang telah dikeluarkan lengkap dengan keuntungan, biaya entertain dan
kemewahan kilat yang diinginkan oleh para mafioso.
Hasilnya
adalah suatu rencana anggaran yang menurut hitungan realistis tak masuk akal
dan di sana sini digelembungkan. Apakah kemudian proses ini tak disadari oleh
puluhan anggota badan anggaran yang mewakili fraksinya? Lagi-lagi jawabannya
akan sumir, karena setiap anggota badan anggaran akan saling menghormati dengan
usulannya masing-masing bila saling mendukung dan “mengerti”. Proses yang
seperti ini sulit dipertanggungjawabkan secara akuntable apalagi jika harus
dilakukan cek lapangan terhadap rencana pekerjaan dan jumlah anggaran yang dialokasikan.
Diawali
dari proses yang tidak transparan dan akuntable itulah kemudian penganggaran
juga dipenuhi faktor saling mengisi dan mengamankan. Sehingga penganggarannya
juga mempertimbangkan biaya untuk mafia pada pengerjaannya yang kemungkinan
besar jika diaudit diperlukan biaya damai....proses itu terjadi bertahun-tahun
sepanjang usia republik ini entah pada periode kapan hal itu mulai menggila.
Ada kejadiannya, ada gerak-geriknya ada mafianya tapi mafia nya sendiri tak
pernah tertangkap oleh penegak hukum.
Jika
kita semua menyadari bahwa sesungguhnya memang benar ada mafia di lembaga
perwakilan kita dan justru yang tertangkap bukan mafia itu tentu ini luar
biasa. Seperti cerita hantu, monster yang mengerikan yang bisa kapan saja
datang dan menghilang.
Menyadari
ini semua, marilah kita dukung pengungkapan semua kasus di gedung perwakilan
kita yang mengakibatkan APBN kita tak efektif apalagi efisien. Ilustrasi di
atas tak berarti sudah tak ada lagi anggota DPR kita yang memiliki nurani,
justru terkuaknya bebagai kasus penyelewengan itu karena masih ada nurani yang
menggugah untuk mengatakan bahwa yang benar adalah benar adanya.
Bravo
Agus Chondro, tetap semangat Wa Ode Nurhayati...............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar