Beberapa hari terakhir ini, setelah Rapat
Kerja Nasional PAN 2011 ditutup dengan salah satu keputusan: Pencapresan Hatta
Rajasa pada pilpres 2014 bebagai tanggapan meramaikan media massa; dari wawancara
dengan para tokoh, artikel sampai sekedar gossip.
Sebelumnya Partai Gerindra sudah lebih awal
memastikan Letjen (purn) Prabowo Subiyanto untuk diusung sebagai calon
Presiden. Partai Golkar yang sebulan lalu melaksanakan Rapimnas juga telah
menetapkan Aburizal Bakrie, Ketua Umum
-nya sebagai Calon Presiden.
Hingar-bingar pencapresan dini salah satunya disebabkan akan segera
berakhirnya periode pemerintahan SBY yang menurut UUD 1945, sudah tidak punya
peluang untuk mencalonkan atau dicalonkan. Hal ini berbeda dengan periode
2004-2009, dimana SBY masih punya peluang untuk mencalonkan yang kedua kalinya.
Hanya Prabowo Subiyanto yang sudah sejak awal memastikan pencapresan dirinya
pada saat itu.
Terlepas dari pro dan kontra atas pencalonan
mereka yang telah dilecutkan melalui rumah mereka masing-masing yaitu Gerindra
sebagai rumah Prabowo, Golkar sebagai rumah Aburizal Bakrie dan PAN sebagai
rumah Hatta Rajasa: ini adalah suatu
fenomena yang positif, dimana partai tak lagi berpikir untuk mengimpor calon
pemimpin bangsa dari luar rumah mereka.
Pencapresan dini dapat menjadi pendidikan
politik bagi partai dan masyarakat secara luas. Setelah pencapresan itu, mereka
akan berlomba-lomba untuk mendekat kepada rakyat sesuai dengan tugas yang
diembannya. Terutama Hatta Rajasa, sebagai Menteri Koordinator Perekonomian
pastilah tak lagi bisa main-main dengan pekerjaannya, langsung atau tidak
pedikat balon capres akan membuatnya ‘bermental presiden’. Jangankan berpikir
untuk menyelewengkan jabatan, melalaikan tugasnya saja akan berakibat sangat
buruk baginya. Ibaratnya 24 jam seluruh pasang mata di republic ini sekarang
mengamati langkah dan gerak-gerik para bakal calon presiden.
Pencapresan dini Hatta Rajasa, sebenarnya
agak terlambat, mestinya itu sudah diputuskan pada waktu kongres PAN ke 3 di
Batam pada Januari 2010 yang lalu. Bagi Hatta Rajasa sendiri, sesungguhnya
pencapresan dini tak terlalu diinginkannya, simak saja jawaban atas keputusan
pencapresannya di rakernas, tak pernah tegas: bekerja, bekerja dan bekerja…..
banyak orang mengatakan bahwa Hatta terlalu santun. Kata Pak Amien Rais, seniornya,
Hatta Rajasa lebih njawani ketimbang orang Solo. Sikapnya ini cukup masuk akal,
bila terkait dengan posisinya sebagai pembantu presiden, Hatta tak ingin gege
mongso…ia masih ewoh pakewuh dengan Presiden yang pada akhir November lalu
telah resmi menjadi satu keluarga, besannya.
Tentu pencapresan hatta dari PAN menimbulkan
berbagai spekulasi. Bagi kader-kader PAN spekulasi itu tak terlalu menjadi
pemikiran yang penting. Dari pandangan umum 33 Dewan Pimpinan Wilayah yang
hadir di forum Rakernas itu tak ada yang bersuara lonjong, semuanya bulat:
meminta Hatta Rajasa untuk dicapreskan….alasan pencapresannya pun beragam: dari
soal kader terbaik partai hingga peranan Hatta Rajasa di pemerintahan….
Terlepas dari seluruh proses yang menyertai
tiga tokoh utama partai sebagai balon presiden tersebut, bagi penulis ini
pertanda baik. Demokrasi kita tengah menuju pada kualitas lumayan. Setidaknya
partai politik sebagai soko guru demokrasi dalam tiga belas tahun terakhir ini
sudah mulai berbenah dalam hal kaderisasi. Kader partai sepertinya sudah bosan
dicekoki calon-calon pemimpin dari luar mereka. Tuntutanya adalah mereka partai
politik harus terus melakukan perubahan seiring dan sejalan dengan tuntutan
jamannya. Saya kira ke depan tak perlu
ada dikotomi lagi antara professional dan politisi. Profesional bisa
saja berlatar belakang politik alias kader partai. Yang terpenting adalah bagaimana
profesionalitasnya mampu ditunjukkan untuk mengabdi kepada kepentingan bangsa.
Bukankah tujuan setiap partai politik selalu berhimpit dengan semangat merah
putih, dengan tujuan nasional yang sama.
Kaderisasi di PAN, tak pernah terhenti. Pada
tahun 2004, PAN dengan percaya diri mengusung Prof. Dr. M. Amien Rais, Ketua
Umum PAN pada saat itu untuk menjadi calon presiden berpasangan dengan Siswono
Yudhohusodo, pada tahun 2009, melalui rakernas di Yogyakarta menjelang
pemilihan umum presiden, PAN menetapkan mencalonkan Hatta Rajasa sebagai Calon
Wakil Presiden, setelah Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, menghentikan
pencalonannya sebagai Presiden. Meski keberuntungan belum berpihak, namun dari
sisi kaderisasi, PAN tak pernah absen dari percaturan kursi kepresidenan/wakil
presiden. PAN tak pernah kering dari penyiapan kader-kader pemimpin bangsa
meski usia partai masih seusia reformasi.
Bagi orang yang berpikir tentang proses,
pencalonan Hatta Rajasa secara resmi sebagai balon presiden, adalah keputusan
yang brilian. Pertama, proses ini
akan mengakumulasi sinergi kader internal PAN dalam memfokuskan diri untuk
memenangkan pemilu legislative sebagai batu pijakan (stepping stone) mulus
tidaknya pencalonan hatta rajasa sebagai presiden. Kedua, persepsi orang di luar PAN bahwa ada faksionalisasi di tubuh
PAN tak terbukti, nyatanya PAN secara bulat bersepakat dengan pencapresan Hatta
Rajasa, sehingga semua anasir negative yang dapat menyebabkan kegagalan PAN
mengusung Hatta Rajasa dapat segera diberantas, setiap orang harus
mengikhlaskan bersinergi dan berbagi peran demi tercapainya tujuan tersebut.
Yang keberatan dia bisa dianggap tak setuju Hatta Rajasa dicapreskan. Ketiga, proses konsolidasi dan
sosialisasi akan menjadi milik sebuah tim besar yang diayomi partai, karena
partai yang memutuskan Hatta Rajasa untuk dicapreskan. Keempat, Hatta Rajasa mesti mengikhlaskan tim besar yang
didominasi oleh orang-orang jawa, karena secara kultur Hatta Rajasa memerlukan
simbiosa dengan mereka untuk membuat pemilih jawa yang besar, yakin bahwa Hatta
Rajasa seorang tokoh yang dapat mengayomi mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar