Sudah setengah abad lebih negeri ini memproklamirkan kemerdekaannya. Juga dalam perjalanan setelah merdeka itu telah kita lalui berbagai peristiwa yang mencerminkan suatu historiografi dari sebuah bangsa dalam negara merdeka yang diakui oleh dunia. Perjalanan bangsa ini untuk kita bandingkan dengan sebuah pembangunan budaya yang bercita rasa tinggi masihlah terlalu singkat, namun dari sisi pendidikan dan kemampuan ekonomi masyarakat kita begitu tertinggal jauh dengan negara baru seperti Malaysia, bahkan Vietnam. Memang dalam satu dasawarsa terakhir ini kita cukup berbangga dengan proses konsolidasi demokrasi yang telah kita capai. Kebebasan mengeluarkan pendapat, berserikat dan kebebasan pers sangat luar biasa, mungkin diatara rumpun asia tenggara hari ini Indonesialah negara paling maju dari sisi konsolidasi demokrasinya.
Kita setuju untuk meletakkan sebuah paradigma bahwa demokrasi hanyalah alat, bukan suatu tujuan yang hendak kita capai. Karenanya kita memerlukan suatu bangunan yang kokoh untuk menopang bagaimana alat itu bisa dengan efektif mencapai tujuannya yaitu kesejahteraan rakyat. Anda tentu juga tahu bahwa bangsa ini sedang latah memasuki babak baru: pergerakan ke arah medan politik yang seolah-olah menjadi panglima, suatu keadaan ekstrim dari pemerintahan di bawah kendali orde baru yang menjadikan ekonomi sebagai panglima. Mestinya kita tidak mengarah ke situ. Kalau tidak salah, bapak bangsa Amerika, Abraham lyncoln sempat berujar: it’s culture not politic, which determine the success of the country. Bukan politik kawan! Tetapi budaya....
Bertolak dari pandangan ini kita ingin ada suatu gerakan yang sistematis dan secara bersama-sama untuk merevitalisasi pembangunan budaya bangsa ini sehingga seperti ungkapan presiden SBY bahwa Indonesia On Keep Moving, bergerak terus, tidak stagnan tidak membosankan dan sekali lagi keep moving....
Bukankah kita masih ingat juga khan bahwa kita diwarisi oleh suatu budaya yang membanggakan dari nenek moyang kita. Mereka adalah para penakluk jaman yang kokoh, ulet dan memiliki karakter. Tapi mengapa yang tersisa adalah mental tempe, bahkan tempe pun saat ini kita harus impor.....Bung Karno dengan nada menantang pernah mengejek kalau bangsa ini bangsa kuli, untuk membangkitakan betapa kita begitu terpuruk pada masa itu. Tapi sekarang kita bukan hanya terpuruk, menjadi kuli pun sudah kesulitan........
Ya, tulisan ini bukan untuk menyesali keadaan yang menimpa kita. Justru kita ingikan ada cahaya dan harapan yang kita sisakan dari kesadaran ini. Karena bangsa ini, negeri ini, akan maju bukan karena presidennya saja yang top, para pejabatnya saja yang hebat. Rakyatnya, pemudanya juga mesti hebat. The craftmen, the jungle fighter yang gigih. Tidak loyo dan pemalas....
Tahun 2008 belum terlalu jauh melangkah. Kita mesti lebih sukses dengan segala perencanaan yang akurat dan presisi. Sudahlah... jangan pusingkan keadaan di kantormu bagi yang bekerja....coba cari rejeki ‘menyamping’ dengan tidak mengesampingkan tanggung jawab. Bagi para wirausahawan, jangan ngarepin kerjaan. Ciptakan pekerjaan sekarang...(Azis Subekti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar