Kelahiran Wonosobo yang sudah 185 tahun, saya ketahui baru saja sekitar 5 bulan yang lalu. Saat itu saya dipaksa oleh sejarah untuk ikut dalam pesta demokrasi lima tahunan, pemilu kepala daerah. Ternyata sosialisasi sejarah sebagai bagian dari salah satu cara membangun semangat untuk mengokohkan integritas budaya dan kepedulian terhadap perkembangan Wonosobo telah gagal dilaksanakan. Berbagai perayaan tidak meninggalkan makna filosofis di kalangan muda untuk bangkit, bertolak dari sebuah pengetahuan tentang sejarah Wonosobo yang di dalamnya ada pesan, modalitas dan heritage yang menjadi bangunan penting dari proses menjadikan Wonosobo sesuai cita2 para pendirinya.
Saya masih dalam perjalanan menggali makna filosofis, modalitas dan heritage itu. Setidaknya saya punya kesimpulan awal bahwa Wonosobo memiliki case yang unik baik di masa lalu maupun sekarang. Mesti kota kecil, Wonosobo adalah populer di dalam negeri maupun di manca negara. Kota pegunungan yang sejuk, memiliki banyak peninggalan sejarah, punya sumber alam yang lumayan, tanahnya subur, budaya berkesenian juga subur, religi yang benar juga “menyimpang” bertumbuh sama baiknya...(tolong dikoreksi bila ada data lain yang lebih valid). Tetapi masih tetap mengkhawatirkan soal kemiskinan penduduknya dan tingkat pendidikan jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga di sekitarnya. Meski sarana infrastrukturnya kurang, namun pertumbuhan ekonominya cukup baik...
Wonosobo bukan saja teritory pemerintahan kabupaten seperti mungkin dipahami secara dangkal oleh sebagian besar generasi muda. Tidak cukup memahami wonosobo hanya sebatas pemerintahan kabupaten dengan otoritas puncak pemerintahan di tangan Bupati. Bagi saya Wonosobo adalah cita-cita, jalan, wajah, semangat, darah, amanat yang tidak boleh diingkari. Karena ada alasan yang tidak bisa dibantah. Saya lahir di Wonosobo. Begitu juga warna yang mesti kita jelaskan ketika kita di luar negeri tentang Indonesia. Karena kita lahir di tanah air tercinta ini. Fanatisme itu adalah pertanggungjawaban juga kebanggaan yang dapat membuat kita terpanggil dimanapun dan kapan pun untuk berbuat sesuatu tanpa ada catatan sebagai perantau dan lain-lainnya.
Bahwa dalam perjalanan waktu kita secara sendiri, orang per orang, berkelompok, berormas, ber partai dan sebagainya pernah mengisi ke-Wonosobo-an dengan hal yang membanggakan maupun melukai perjalanan Wonosobo itu adalah sebuah proses yang harus terus kita perbaiki. Karena Wonosobo itu tidak given. Kita mesti saiyeg saeko proyo untuk menjadi Wonosobo sesuai titen yang kita tangkap dari para pendiri dan orang-orang sholeh yang telah mengantarkan Wonosobo berumur 185 tahun.
Dalam kaitan mengokohkan kesadaran Wonosobo on becoming dan tradisi kota-kota tua yang bertahan dan menjelma menjadi kota modern yang tetap manusiawi. Sebut saja Madinah dan Mekah. Selalu saya tertarik untuk mengatakan tentang kesan saya yang mendalam terhadap penggambaran dinusaurus dalam film Jurassic Park. Ratusan tahun yang lalu ada sebuah binatang yang diketahui dari penemuan fosilnya adalah binatang yang sangat besar, dengan tulang-belulang yang menyangga tubuhnya kokoh serta kuat.... ya ratusan tahun yang lalu. Dan binatang itu sekarang tak satu pun menyisakan keturunan apalagi species yang dapat melanjutkan ketersohorannya di masa lalu. Dinusaurus punah bukan karena dia binatang kecil dan lemah. Dinusaurus ditelan perubahan jaman karena tantangan-tantangan pada pada jamannya baik alam maupun kompetisi rimba tidak mampu ia imbangi dengan perubahan pada dirinya. Begitu juga kita sebagai pribadi, kita sebagai suatu kelompok organisasi, kita sebagai bagian dari kabupaten atau negara pada saatnya akan tinggal kenangan bila tidak mengusung nafas perubahan. Itulah proses yang harus terus konsisiten kita perbaiki dan ikuti tanpa merasa takut dan dianggap aneh, karena kita ingin bertahan.....
Ingat. Wonosobo masih dalam proses menjadi. Wonosobo on becoming....